Batavia di masa JP Coen

Jika kita mendengar sebuah nama “Batavia”, pasti akan teringat kembali saat VOC merebut Jayakarta dari kerajaan Mataram dan mengubah namanya menjadi Batavia. Dalam pembangunan Batavia yang di lakukan oleh JP Coen, ia menginginkan kota Batavia menjadi kantor pusat VOC di Hindia-Belanda. Untuk lebih lanjutnya, yuk simak sejenak tentang sejarah Batavia di era JP Coen..

Ketika awal Coen menjabat sebagai gubenur jendral di Hindia-Belanda, ia sudah mempunyai beberapa rencana untuk menjadikan VOC lebih bagus. Hal pertamaa yang ia lakukan adalah membangun sebuah markas besar VOC yang dapat memenuhi semua keperluan VOC. Menurut Coen, markas VOC yang berada di Banten tidaklah menarik untuk di jadikan sebuah markas besar VOC, karena menurutnya di Banten akan bersinggungan dengan kerjaan Mataram dan orang-orang Cina yang tinggal di sana. Coen tetap memilih wilayah untuk kantor pusat VOC di daerah jawa, alasannya karena mudah untuk distribusi logistik pangan. Kemudian Coen memilih Jayakarta sebagai tempat untuk kantor pusat VOC, karena di Jayakarta terdapat gudang dan Loji VOC yang telah berdiri sejak tahun 1610. Namun pihak kerajaan Mataram tidak menyetujui pembangun yang akan dilakukan oleh VOC, maka terjadilah perang perebutan Jayakarta antara VOC dan Mataram. Pertempuran tersebut dimenangkan VOC, dampak dari peperangan itu Jayakarta porak poranda dan akhirnya di atas puing-puing Jayakarta dibangunlah Batavia pada tanggal 30 mei 1619. Langkah kedua Coen adalah meralisasikan monopoli perdagangan rempah-rempah khususnya pala di Banda.

Ketika diatas puing-puing Jayakarta dibangun, Coen banyak memerlukan budak untuk membangun kota tersebut. Batavia dibangun dekat dengan muara sungai Ciliwung, desain kota yang akan dibangun Coen  menyerupai kota-kota yang berada di Netherland dengan kanal-kanal yang membelah kota dan pohon-pohon rindang di samping kanan dan kirinya. Awalnya sebelum diberi nama Batavia, kota yang di bangun Coen ini bernama New-Hoorn, kemudian diganti menjadi Batavia. Batavia

gerbang benteng kota batavia dengan bastion disetiap sudutnya

dibangun dengan sebuah benteng yang menggunakan batu bata tebal dan di setiap sudutnya dibangun bastion (dinding pertahanan) yang dilengkapi dengan meriam yang menjorok keluar. Bastion tersebut berjumlah empat, dan setiap bastion memiliki nama yang bersalkan dari sebuah batu mulia, seperti bastion Diamant, bastion Robijn, bastion Parrel, dan bastion Saphier. Disekeliling tembok yang melindungi kota, dibagian luarnya juga dibuat sebuah parit.

Pintu gerbang kota ada dua buah, di sebelah utara dan sebelah selatan. Disebelah utara dikenal sebagi Waterpoort dan sebelah selatan dikenal sebagai land poortatau

Amsterdamse Poort

Amsterdamsche poort. Amsterdamsche poort berada di persimpangan antara jalan cenkeh dah jalan tongkol, dan Jalan Nelayan Timur yang berhadapan dengan stadhuis (museum Sejarah Jakarta sekarang). Batavia pada masa itu telah menjadi pusat kegiatan dagang dan pemerintahan VOC, serta sebagai pemukiman bagi orang-orang Belanda. Batavia terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian barat dan timur, bangian barat dihuni oleh orang Portugis, orang Cina dan golongan orang rendahan. Dibagian timur terutama di Tijgergracht (sekarang POS KOTA) dihuni oleh orang-orang kaya dengan rumah yang megah dan halaman yang luas. Pada masa Coen, Batavia menjadi wilayah residentie dan terbagi menjadi tiga daerah, yaitu de Stad en Voorsteden (kota dan kota pelabuhan), Buiten de Stad (luar kota), dan Ommelanden (sekitar batavia). Di luar kota Batavia dihuni oleh orang-orang Jawa, Makasar, Bugis, Ambon, Cina dan lain-lain.

Pada masa William Hermans Deandels kekuasaan Hidia-Belanda yang tadinya di Batavia dipindahkan ke Weltevreden (sekitar Gambir dan lapangan Banteng, di dekat gedung Departemen Keuangan sekarang). Menurut Deandels di Batavia yang terletak di muara sungai Ciliwung lingkungannya tidak sehat. Lingkungan itu tidak sehat karena gaya hidup orang eropa yang jarang mandi dan berpakaian dengan gaya iklim subtropics yang notabene tidak cocok dengan iklim tropis di Batavia.

Sekitar tahun 1628 dan 1629, Coen akan membangun sebuah gerbang untuk melengkapi Batavia. Desain gerbang itu dirancang sendiri oleh Coen, dan gerbang yang akan dibangun Coen sebagai pintu gerbang Batavia tingginya diperkirakan mencapai tujuh meter, namun rencana pembangunna tersebut tak dapat direalisasikan. Karena pada tanggal 4 juni 1629 kapal yang mengangkut bahan dasar pembutan gerbang (balok-balok batu yang terukir) kandas dan karam karena menerjang sebuah karang di lepas pantai Australia Barat. Pada tahun 1963, seorang nelayan tidak sengaja menemukan bangkai kapal yang karam tersebut, dan balok-balok batu yang ikut karam dapat diangkat dan direkonturksi ulang oleh pemerintahan Australia. Ketika pada tahun 1979 balok terakhir dapat diangkat, dan dipasangkan pada tempatnya, maka terbentuklah wajah gerbang Batavia yang akan dibangun oleh Coen. Gerbang tersebut sekarang berada di Ruang Batavia di museum Maritim

Gerbang Batavia yang akan dibangun JP Coen

Frementale, Australia Barat. Namun, pemerintah Indonesia mencoba meminta replika gerbang tersebut untuk dibawa ke Jakarta. Namun hingga saat ini belum terdengar lagi apakah sudah mendapatkan replika tersebut atau belum.

Semoga tulisan di atas berkenan dan menambah pengetahuan sejarah kita.

 

 

 

sumber : jakarta.go.id, http://www.multiplay.soeryasenja.com dan berbagai sumber lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s